Kamis, 19 Desember 2013

JURNAL KELOMPOK "PENGGUNAAN ALUMINIUM FOIL UNTUK PRODUKSI GAS HIDROGEN DAN PENJERNIHAN AIR"

PENGGUNAAN ALUMINIUM FOIL UNTUK PRODUKSI GAS HIDROGEN DAN PENJERNIHAN AIR

Kelompok 4
Henggar Wahyu S. (1112096000038), Indri Rachmawati (11120960000), Naufal Najmudin (11120960000), Nurdini Awaliyah (11120960000)
Jurusan Kimia, Fakultas Sains dan Teknologi, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Abstrak
Krisis energi yang semakin terasa dewasa ini memicu pengembangan sumber energi alternatif terbarukan (renewable) untuk mensubstitusi penggunaan minyak bumi yang selama ini menjadi sumber energi utama bagi masyarakat. Penelitian ini mengkaji tentang pembuatan fuelcell dan penjernihan air sederhana.  Gas hidrogen dapat dijadikan sebagai sumber pembangkit listrik dan gas hidrogen tersebut dapat dihasilkan dari reaksi antara larutan NaOH dengan aluminium foil, dari limbah gas hidrogen mampu menjernihan air dengan mereaksikan kembali limbahnya dengan H2SO4. Hasil yang diperoleh diharapkan dapat diaplikasikan dalam masyarakat untuk kesejahteraan sosial.
Kata kunci: Energi, fuel cell, hidrogen

Abstract
The crisis of energy today is bringing the development of alternative renewable energy sources to substitute the use of petroleum which has been the main source of energy for the society. This study examines the making of fuel cell and simple water purification. Hydrogen can be used as a source of power generation and it can be produced from the reaction of NaOH solution with aluminum foil. From the waste of hydrogen production, it is able to purify waste water by reacting it with H2SO4. The results are expected to be applied in the community for social welfare.
Keyword: Energy, fuel cell, hydrogen
I.     Pendahuluan
Seiring Permasalahan kebutuhan energi di Indonesia merupakan masalah yang serius dalam kehidupan  manusia. Energi merupakan komponen penting bagi kelangsungan hidup manusia karena hampir semua  aktivitas kehidupan manusia sangat tergantung terhadap ketersediaan energi. Kebutuhan energi  nasional masih dipenuhi minyak bumi sekitar 53%. Cadangan minyak bumi di Indonesia diprediksi  tersisa sekitar 3,9 miliar barel. Cadangan tersebut diperkirakan akan habis dalam 11 tahun ke depan.  Penyebab masalah tersebut dikarenakan minyak bumi merupakan sumber daya alam yang tidak dapat diperbaharui, sehingga untuk mendapatkan kembali memerlukan waktu ratusan juta tahun lamanya.  Terbentuknya minyak bumi sangat lambat, oleh karena itu diperlukan penelitian untuk menghasilkan  sumber energi alternatif. Hasil penelitian tersebut diharapkan mampu mengatasi beberapa  permasalahan yang berkaitan dengan penggunaan minyak bumi. Salah satu bentuk energi alternatif  untuk mengatasi permasalahan yang terjadi adalah gas hidrogen.  Gas hidrogen tidak dapat ditambang melainkan harus diproduksi. Alternatif tersebut dapat  dilakukan dengan melakukan proses elektrolisis menggunakan air khususnya air laut. Air merupakan  sumber daya alam yang sangat penting bagi kehidupan. Air memiliki jumlah yang sangat melimpah  khususnya air asin di laut sekitar 1.337 juta km3 (Kodoatie, 2010).
Aluminium adalah logam berwarna putih keperakan yang lunak. Aluminum, Al, merupakan anggota golongan 13, berada sebagai aluminosilikat di kerak bumi dan lebih melimpah daripada besi.  Mineral aluminum yang paling penting dalam metalurgi adalah bauksit, AlOx (OH)3-2x (0 < x <1). Sifat aluminum dikenal dengan baik dan aluminum banyak digunakan dalam keseharian, misalnya untuk koin, panci, kusen pintu, dsb. Logam aluminum digunakan dengan kemurnian lebih dari 99%, dan logam atau paduannya (misalnya duralium) banyak digunakan.
Aluminium adalah logam yang paling banyak terdapat di kerak bumi, dan unsur ketiga terbanyak setelah oksigen dan silikon. Aluminium terdapat di kerak bumi sebanyak kira-kira 8,07% hingga 8,23% dari seluruh massa padat dari kerak bumi, dengan produksi tahunan dunia sekitar 30 juta ton pertahun dalam bentuk bauksit dan bebatuan lain (corrundum, gibbsite, boehmite, diaspore, dan lain-lain) (USGS). Sulit menemukan aluminium murni di alam karena aluminium merupakan logam yang cukup reaktif.
Aluminium tahan terhadap korosi karena fenomena pasivasi. Pasivasi adalah pembentukan lapisan pelindung akibat reaksi logam terhadap komponen udara sehingga lapisan tersebut melindungi lapisan dalam logam dari korosi. Aluminium murni adalah logam yang lunak, tahan lama, ringan, dan dapat ditempa dengan penampilan luar bervariasi antara keperakan hingga abu-abu, tergantung kekasaran permukaannya. Kekuatan tensil aluminium murni adalah 90 MPa, sedangkan aluminium paduan memiliki kekuatan tensil berkisar 200-600 MPa. Aluminium memiliki berat sekitar satu pertiga baja, mudah ditekuk, diperlakukan dengan mesin, dicor, ditarik (drawing), dan diekstrusi.
Lingkungan hidup adalah semua benda yang hidup (biotik) dan yang tidak hidup (abiotik) serta kondisi yang ada dalam ruang yang kita tempati. Antara manusia dan lingkungan terdapat hu ungan timbal balik, manusia mempengaruhi lingkungannya begitu juga sebaliknya. Jika lingkungan tercemar maka manusia akan merasakan dampaknya. Persoalan lingkungan yang ada hampir selalu ditimbulkan oleh ulah manusia dan kegiatan produksi yang dilakukannya. Kedua aktivitas ini merupakan sumber pencemaran lingkungan karena menggunakan dan menghasilkan zat atau bahan yang berbahaya yang tidak dapat di daur ulang (Nurhasmawaty, 2004).
Kegiatan produksi selain menghasilkan produk yang mempunyai nilai ekonomi juga menghasilkan limbah, berupa limbah padat, cair maupun gas. Limbah-limbah tersebut akan menyebabkan pencemaran lingkungan meliputi pencemaran air, pencemaran udara, dan pencemaran tanah.
Pencemaran tanah dapat terjadi akibat penggunaan pupuk secara berlebihan, penggunaan pestisida dan pembuangan limbah yang tidak dapat terurai. Saat ini banyak dijumpai limbah yang tidak dapat diurai seperti plastik, karet, kaleng, dan botol, karena manusia cenderung menginginkan kemudahan dan keindahan dalam hidupnya. Botol minuman dibuat dari kaleng dan plastik agar ringan dan tidak pecah bila terjatuh. Menjinjing makanan lebih menarik dan bersih dengan kantong plastik daripada dibungkus dengan daun pisang atau daun jati. Penggantian bahan-bahan tersebut dari segi ekonomi lebih menguntungkan tetapi jika dilihat dari dampak lingkungan hal tersebut merugikan karena akan menambah jumlah limbah yang tidak dapat diurai. Akibatnya pencemaran lingkungan semakin bertambah (Tejoyuwono, 2006).
Limbah merupakan konsekuensi dari adanya aktifitas manusia karena setiap aktifitas manusia cenderung menghasilkan limbah atau buangan. Jumlah/volume sampah sebanding dengan tingkat konsumsi manusia terhadap barang/material yang digunakan sehari-hari. Salah satu limbah yang banyak ditemukan di lingkungan adalah limbah kaleng. Jika disebutkan satu per satu banyak sekali limbah kaleng yang dihasilkan oleh manusia dalam kehidupan sehari-hari. Proses daur ulang akan menghemat energi dan eksploitasi sumber daya alam sekaligus mengurangi timbunan sampah di TPA (Pahlano, 2007).
Selain untuk mengurangi pencemaran lingkungan dan timbunan sampah di TPA, proses daur ulang juga dapat menambah nilai ekonomis dari limbah kaleng terutama recovery dari logam-logam seperti aluminium, seng, timah, atau besi. Dugaan kuat bahwa beberapa kaleng bekas mengandung aluminium dengan kadar yang bervariasi, mengingat aluminium mempunyai sifat tahan korosi, ringan dan mudah di dapat sehingga memungkinkan untuk dijadikan bahan baku kaleng. Kandungan aluminium dalam kaleng bekas juga memberi peluang untuk diolah menjadi bahan koagulan penjernih air (tawas) atau bahan dalam deodorant. Daya koagulasi tawas yang di dapat akan di bandingkan dengan tawas dari pasaran dengan metode turbidimetri. Mengingat banyaknya minuman ringan yang diproduksi dan menggunakan kemasan kaleng serta dampak yang ditimbulkan terhadap lingkungan, maka diperlukan penelitian terhadap kandungan aluminium dari beberapa jenis kaleng minuman ringan. Kaleng bekas minuman ringan yang mengandung aluminium selanjutnya diolah menjadi bahan koagulan penjernih air (tawas).

II.  Metode Penelitian
1.    Produksi Gas Hidrogen Untuk Bahan Bakar
Pembuatan Gas Hidrogen Dari Aluminium Foil
Peralatan yang disiapkan seperti diantaranya kaleng biskuit, botol bekas sirup, balon, dan karet. Adapun bahan yang digunakan NaOH, limbah aluminium foil, dan aquadest.
Diawali dengan  mengisi wadah kaleng biskuit dengan air sampai setengahnya lalu  mengisi botol bekasn sirup dengan larutan NaOH ± 50 mL kemudian memasukkan limbah alumunium foil yang sudah diremas-remas ke dalam botol sirup lalu menutup botol dengan balon kemudian merendam botol sirup pada wadah kaleng yang berisi air dan amati balon sampai menggelembung dan melepaskan balon dari botol dan diikat dengan karet serta  menghitung volume H2 yang dihasilkan.

Pembuatan Storage Hidrogen
Disiapkan alatan dan bahan seperti diantaranya membran fuel cell, botol bekas, pompa, balon, neraca analitik, gelas beaker, dan selang, larutan NaOH, aluminium foil, dan aquadest.
Diawali dengan melubangi tutup botol lalu dipasang baut untuk dihubungkan dengan selang, kemudian selang dihubungkan dengan botol bekas minuman kemudian memasang balon pada tutup botol yang sudah terhubung dengan selang selanjutnya mengisi gelas beaker dengan air sampai setengahnya dan mengisi botol bekas dengan larutan NaOH ± 35 mL, lalu dimasukan kedalam gelas beaker yang berisi air kemudian memasukkan limbah 0,8 gram alumunium foil yang sudah diremas-remas ke dalam botol selanjutnya mengamati reaksi yang terjadi pada balon, jika reaksi sudah selesai tutup kran pompa dan hubungkan pada membran dan mengamati energi yang terjadi.

2.    Penjernihan Air Dengan Tawas
Pembuatan Tawas Dari Aluminium Foil
Disiapkan alat dan bahan diantaranya erlenmeyer, gelas ukur, gelas beaker, corong, batang pengaduk, neraca analitik, hot plate dan kertas saring, aluminium foil, larutan KOH 20%, larutan NaOH 20%, larutan H2SO4 dan etanol 70 %.
Diawali dengan menimbang alumunium foil sebanyak 0,8 gr lalu dimasukkan ke dalam gelas beaker yang berisi 50 mL KOH 20% kemudian dipanaskan di atas hot plate, kemudian proses pemanasan dihentikan sampai gelembung-gelembung gas yang terbentuk hilang lalu larutan tersebut disaring dan didinginkan selanjutnya ditambahkan dengan 30 mL H2SO4 (air aki) sambil diaduk kemudian larutan disaring dan didinginkan di dalam es, lalu Kristal tawas yang terbentuk dipisahkan dengan corong dan dicuci dengan 20 mL etanol 70% kemudian endapan dikeringkan, setelah kering kemudian ditimbang sampai beratnya konstan. Begitu pula dengan cara yang sama dalam melarutkan alumunium foil dalam NaOH 20%.

Penjernihan Air Dengan Tawas
Pada praktikum ini menggunuakan peralatan kimia seperti diantaranya tabung reaksi, gelas ukur, batang pengaduk, dan botol semprot. Adapun bahan yang diperlukan adalah tawas pasaran,   tawas hasil percobaan, larutan FeCl3,  air sungai dan  Aquadest.
Diawali dengan mempersiapkan tawas hasil percobaan dan tawas yang dijual di pasar kemudian ke dalam 2 buah tabung reaksi, dimasukkan 2 mL aquades dan 2 mL larutan FeCl3 selanjutnya dimasukkan 2 gr tawas yang berbeda tersebut ke dalam masing-masing tabung reaksi kemudian tabung reaksi dikocok hingga tawas melarut dan didiamkan selama 30 menit dan diamati perubahan terhadap sampel yang terjadi.

Penjernihan Air Dengan Adsorben
Pada praktikum ini menggunuakan peralatan kimia seperti diantaranya tabung reaksi, rak tabung,  stirrer,  corong,  gelas ukur 100 mL,   pipet tetes,  kaca arloji, mortal dan alu, neraca analitik,  kertas saring. Adapun bahan yang digunakan adalah  larutan FeCl3 100 ppm,  zeolit,  bata merah,  tawas pasar dan aquades.
Diawali dengan mempersiapkan 3 buah tabung reaksi, kemudian masing-masing tabung diisi dengan larutan FeCl3 100 ppm sebanyak 30 mL, lalu menimbang tawas, zeolit, dan bata merah yang telah dihaluskan masing-masing sebayak 1 gr, kemudian Tawas, zeolit, dan bata merah yang ditimbang masing-masing dan dimasukkan ke dalam tiga buah tabung reaksi yang berbeda dan  menghomogenkannya dengan menggunakan stirrer lalu didiamkan selama 30 menit kemudian menyaring masing-masing larutan FeCl3 tersebut, dan dibandingkan kejernihan dari larutan yang didapat.

III.   Hasil dan Pembahasan
1.    Produksi Gas Hidrogen Untuk Bahan Bakar
Pembuatan Gas Hidrogen Dari Aluminium Foil
Hidrogen dapat dibuat atau diperoleh dengan mereaksikan logam-logam dengan asam kuat yang dapat berupa H2SO4 dan dengan logam aluminium yangdireaksikan dengan basa kuat berupa NaOH. Pada praktikum kali ini, pembuatan gas hidrogen dilakukan dengan menggunakan NaOH dan limbah alumunium foil, dimana NaOH bertindak sebagai katalis yang mempercepat reaksi. Aluminium merupakan logam yang berwarna putih abu-abu (silver) yang melebur pada 659  oC, dan bila terkena udara akan teroksidasi pada permukaannya. Pembentukan hidrogen ini terjadi menurut persamaan :
2 Al + 6 H2O → 2 Al(OH)3 + 3 H2
Percobaan pertama dilakukan untuk mengetahui jumlah hidrogen yang dihasilkan dari reaksi alumunium foil dengan massa yang berbeda yaitu 0,1 gr; 0,2 gr; 0,4 gr; dan 0,8 gr dengan 50 mL larutan NaOH IM di dalam botol. Untuk dapat menghitung volume dari gas hidrogen yang dihasilkan dipasang balon pada tutup botol. Ketika alumunium foil mulai bereaksi dengan NaOH akan terbentuk gelembung gas yang merupakan gas H2, gas ini kemudian menguap, dan uapnya tertampung pada balon. Dari empat percobaan gas H2 paling banyak dihasilkan pada reaksi 0,8 gr alumunium foil dengan NaOH yaitu sebanyak 0.8953 L, sedangkan pada massa 0,1 gr; 0,2 gr; dan 0,4 gr volume hidrogen yang dihasilkan masing-masing adalah 0.2052 L , 0.0899 L, 7.98x10-3 L.

Grafik 1. Jumlah gas yang dihasilkan pada reaksi aluminium foil dengan NaOH
Semakin banyak alumunium foil yang ditambahkan, semakin banyak jumlah gas hidrogen yang dihasilkan. Gas hidrogen adalah gas yang mudah terbakar jika kontak dengan panas, untuk menguji adanya gas hidrogen, dapat dilakukan dengan membakar ujung balon dengan bantuan tissue dan alkohol.
Pembuatan Storage Hidrogen
Percobaan kedua adalah merancang alat untuk penyimpanan gas hidrogen. Gas hidrogen merupakan gas yang sangat reaktif bahkan pada konsentrasi 4-74%, gas hidrogen membentuk campuran eksplosif dengan udara. Campuran tersebut akan spontan meledak karena dipicu oleh api, panas atau sinar matahari. Beberapa cara untuk dapat menyimpan gas hidrogen dapat dilakukan pada tangki bertekanan tinggi. Selain itu dapat digunakan tangki hidrogen cair, pada teknologi ini, gas hidrogen dicairkan pada suhu yang sangat rendah. Pada tekanan 1 atm, dibutuhkan temperatur hingga 22 K. Energi untuk mendinginkan hidrogen cukup energi yang besar, hingga mencapai 1/3 dari energi yang disimpan. Cara lainnya dengan menggunakan logam/alloy dengan karakteristik menyerupai sponge yang dapat menyerap hidrogen. Hidrogen akan terabsorpsi pada ruang interstitial pada kisi kristal logam sehingga hidrogen tidak mudah terbakar dan lebih aman.
Gas hidrogen dihasilkan dari reaksi antara aluminium foil dengan NaOH. Untuk mengidentifikasi dan memastikan telah dihasilkan hidrogen dalam reaksi yaitu dengan mengujicobakannya pada sebuah reaktor dengan menghubungkan balon (tampungan gas  hidrogen) pada membran pada reaktor. Hasil akhirnya adalah kipas pada membran dapat berputar, begitupun lampu pada membran dapat menyala dengan baik dengan voltase sebesar 645 V.  Hal ini membuktikan bahwa hidrogen dapat dijadikan sebagai sumber pembangkit listrik yang baik karena limbah yang dihasilkan hanya berupa air.

2.    Penjernihan Air Dengan Tawas
Pembuatan Tawas Dari Aluminium Foil
Pembuatan tawas dapat dilakukan dengan mereaksikan aluminium foil dengan KOH 20% dan NaOH 20%. Penggunaan dua buah larutan ini dimaksudkan untuk mengetahui larutan yang lebih cocok digunakan untuk pembuatan tawas. Tawas dihasilkan dengan mereaksikan logam aluminium (Al) dalam larutan basa kuat dan akan larut membentuk aluminat dan menghasilkan gas hidrogen. Proses melarutkan ini dibantu dengan adanya panas untuk mempercepat reaksi, dikarenakan dalam reaksi ini dihasilkan gas hidrogen yang ditandai dengan adanya gelembung-gelembung udara, pemanasan juga bertujuan untuk membuat gelembung-gelembung tersebut menghilang. Larutan aluminat kemudian dinetralkan dengan menggunakan asam sulfat, dalam hal ini digunakan air aki. Reaksi ini akan membentuk endapan putih dari Al(OH)3. Penambahan larutan H2SO4 dilakukan agar seluruh senyawa K[Al(OH)4] dapat bereaksi sempurna. Al(OH)3 yang terbentuk langsung bereaksi dengan H2SO4 dengan persamaan reaksi sebagai berikut :
2 Al(OH)+ 3 H2SO4 → Al2(SO4)3 + 6 H2O
Filtrat yang dihasilkan disaring untuk menghilangkan pengotor-pengotornya kemudian filtrat tersebut didinginkan dalam es bertujuan untuk mempercepat pembentukan kristal tawas kemudian dicuci dengan menggunakan etanol 70% yang berfungsi untuk menyerap kelebihan air dan mempercepat pengeringan. Jumlah kristal tawas yang diperoleh adalah sebesar 8,749 gr yang dihasilkan dari reaksi antara alumunium foil dengan KOH 20%, sedangkan reaksi antara alumunium foil dengan NaOH 20% tidak menghasilkan kristal tawas, yang disebabkan oleh konsentrasi dari NaOH yang rendah sehingga reaksi pembentukan kristal berlangsung lambat.
Penjernihan Air Dengan Tawas
Tawas yang dihasilkan dari percobaan sebelumnya dilakukan pengujian untuk mengetahui tawas yang dihasilkan dapat menjernihkan air kotor yang berasal dari danau. Tawas yang digunakan untuk menjernihkan air adalah salah satu contoh dari koagulasi dalam koloid. Koagulasi adalah proses penambahan bahan kimia atau koagulan kedalam air limbah yang bertujuan untuk mengurangi daya tolak menolak antar partikel koloid, sehingga partikel-partikel tersebut dapat bergabung menjadi flok-flok kecil. Tawas ditambahkan ke dalam air sehingga menyebabkan partikel-partikel tersuspensi akan mengendap dan kemudian air dapat diolah lebih lanjut.
Pada percobaan menggunakan dua buah tabung reaksi dengan massa tawas masing-masing tabung 1 gr (A) dan 2 gr (B). Pada tabung B terjadi perubahan dengan terbentuknya endapan pengotor berwarna hijau dan warna dari air danau yang dijernihkan tidak mengalami perubahan. Sedangkan pada tabung reaksi A, tidak terjadi perubahan apapun. Untuk dapat menjernihkan air yang kotor, jumlah tawas yang digunakan haruslah sesuai dengan debet air yang digunakan agar tawas mampu mengendapkan kotoran yang ada pada sampel.
Penjernihan Air Dengan Adsorben
Percobaan selanjutnya dilakukan percobaan untuk membandingkan penggunaan adsorben yang baik untuk penjernihan larutan berwarna seperti FeCl3. Larutan FeCl3 yang digunakan dibuat dengan konsentrasi 100 ppm, pada konsentrasi ini larutan FeCl3 akan berwarna kuning, kemudian ditambahkan adsorben zeolit, tawas pasar, dan batu bata untuk mengetahui adsorben yang baik digunakan untuk menyerap zat warna pada larutan FeCl3.
Adsorben
Jumlah Yang Dipakai
Keterangan
Jernih
Sangat Jernih
Keruh
Tawas
1 gr
ü
Zeolit
1 gr
ü
Batu Bata
1 gr
ü
Tabel 1. Uji Daya Serap Adsorben Untuk Menjernihkan Air
Percobaan pertama adalah menggunakan tawas sebanyak 1 gr yang dimasukkan ke dalam 30 mL larutan FeCl3. Hasil percobaan didapatkan bahwa pada penggunaan tawas setelah dihomogenkan dengan larutan, zat warna yang terserap hanya sedikit sehingga tidak mampu menjernihkan larutan. Hal ini disebabkan karena untuk dapat menjernihkan suatu zat yang kotor menggunakan tawas diperlukan jumlah yang lebih banyak dan waktu yang cukup lama agar larutan menjadi jernih.
Pada penggunaan zeolit dan batu bata, kekeruhan larutan dapat dihilangkan. Ini disebabkan karena zeolit memiliki sifat sebagai adsorben dan penyaring molekul, yang dimungkinkan karena struktur zeolit yang berongga, sehingga zeolit mampu menyerap sejumlah besar molekul yang berukuran lebih kecil atau sesuai dengan ukuran rongganya. Selain itu kristal zeolit yang telah terdehidrasi merupakan adsorben yang selektif dan mempunyai efektivitas adsorpsi yang tinggi. Pad percobaan, penyerapan zat warna oleh zeolit berlangsung dengan sangat cepat, sedangkan pada penggunaan batu bata dibutuhkan waktu untuk menjernihkan larutan.

3.        Kesimpulan
Alumunium foil dapat digunakan sebagai bahan baku untuk memproduksi gas hidrogen maupun untuk pembuatan tawas untuk penjernihan air. Berdasarkan percobaan didapatkan data sebagai berikut:
1.    Gas hidrogen dihasilkan dari reaksi aluminium foil dengan basa kuat NaOH dengan penggunaan massa aluminium foil 0,1 gr, 0,2 gr, 0,4 gr, dan 0,8 gr. Produksi gas hidrogen paling banyak adalah dengan penggunaan aluminium foil 0,8 gr dihasilkan volume gas hidrogen sebesar 0.8953 L.
2.    Pembuatan alat penyimpanan untuk menampung gas hidrogen yang dihubungkan dengan reaktor  dan membran untuk menguji daya hantar hidrogen dalam menghasilkan listrik dihasilkan kipas pada membran dapat berputar dan lampu pada membran dapat menyala dengan baik dengan voltase sebesar 6,45 V.
3.    Pembuatan tawas dengan merekasikan aluminium foil dengan larutan NaOH 20% dan KOH 20% dihasilkan bahwa tawas terbentuk pada reaksi aluminium dengan KOH, tawas yang dihasilkan adalah 8,749 gr
4.    Tawas hasil percobaan dapat digunakan sebagai penjernih air, dengan perbandingan massa tawas:volume air adalah 1:5
5.    Uji daya serap zat dengan menggunakan adsorben berupa tawas, batu bata, dan zeolit dihasilkan bahwa zeolit dan batu bata mampu menjernihkan FeCl3 sedangkan tawas tidak mampu menjernihkan FeCl3

DAFTAR PUSTAKA
Abidin, Zaenal. 2012. Perkembangan Produksi Hydrogen Fuel. Surabaya: Institut Teknologi Sepiluh November
Anonim. 2011. Pembuatan Tawas Dari Alumunium Foil. http://tulananda.wordpress.com/2011/10/20/pembuatan-tawas-dari-alumunium-foil/ diakses pada 2 Oktober 2013
Anonim. 2011. Proses Penjernihan Air. http://chemistryaddict.wordpress.com/2011/10/12/proses-penjernihan-air/ diakses pada 10 Oktober 2013
Anonim. 2012. Adsorpsi Dengan Zeolit, Arang Kasar, Arang Halus, dan Batu Bata. http://se-nyum.blogspot.com/2012/09/adsorpsi-dengan-zeolit-arang-kasar_691.html diakses pada 20 Oktober 2013
Anonim. 2013. Cara Kerja dan Aplikasi Sel Bahan Bakar Hidrogen, Bahan, Prinsip, Pengertian, Contoh. http://perpustakaancyber.blogspot.com/2013/03/cara-kerja-dan-aplikasi-sel-bahan-bakar-hidrogen-bahan-prinsip-contoh.html (diakses pada Rabu, 25 September 2013 pukul 21.00 WIB )
Anonim. 2013. Tawas. http://id.wikipedia.org/wiki/Tawas diakses pada 20 Oktober 2013
Anwar, Tauhid. 2012. Manfaat Tawashttp://tauhid-anwar.blogspot.com/2012/10/manfaat-tawas.html diakses pada 10 Oktober 2013
Chang, Raymond. 2004. Kimia Dasar Jilid   2. Jakarta : Erlangga
Gustian, Irfan dan Totok E.S. 2005. Studi Penurunan Salinitas Air Dengan Menggunakan Zeolit Alam Yang Berasal Dari Bengkulu. Bengkulu: Universitas Bengkulu
Oemry, Achiar dan Imam Djunaedi. 2010. Sistem Monitoring Pembangkit Listrik Hibrit Sel Surya, Turbin Angin, Fuel Cell Berbasis Hidrogen. Lampung:Universitas Lampung
Putra, Sinly Evan. 2007. Zeolit Sebagai Mineral Serba Guna. http://www.chem-is-try.org/artikel_kimia/kimia_material/zeolit_sebagai_mineral_serba_guna/ diakses pada 20 Oktober 2013
Vogel. 2005. Buku Teks Analisis        Anorganik Kualitatif Makro dan         Semimikro Bagian 1 Edisi ke Lima.    Jakarta : PT. Kalman Media    Pustaka


Wasni. 2011. Laporan Praktikum Kimia Anorganik Hidrogen. Padang: Universitas Negeri Padang

0 komentar:

Posting Komentar